Aku kadang bingung mengartikan
perasaan. Ia seperti gejolak yang tak penah henti bergerak. Aku sudah berusaha
menguncinya dan tak ingin menunjukannya, namun lagi-lagi ia berseruak dan
berteriak. Perasaan ini, begitu sulit untuk memendamnya. Butiran-butiran
kecaman dan gelisah terus mencuit, mendemo laksana teriakan semangat para
mahasiswa yang menggongong di depan gedung-gedung penguasa. Egokah jika harus berterus
terang ? layaknya ego keputusan penguasa yang hanya berdasar pada diri sendiri tanpa
mempertimbangkan suara-suara lusuh dan minor.
Aku telah bertanya kepada Tuhannya
tuhan, jawaban yang tumbuh ialah sabar. Aku bisa bersabar, tapi bagaimana
dengan perasaan ? tidak ! sungguh tidak ! Nyatanya sampai saat ini yang terjadi
ialah desus-desus gelisah. Menyapa palsu, dan mengajaknya bermain dalam arena
hoax. Sabar yang kupunya tak akan pernah bisa dimiliki oleh perasaan, karena
saat ini, sabar yang bisa dipercaya adalah sesuatu yang sangat sulit ditemui ,
bahkan bisa dibilang nihil. Artinya kebenaran bisa dijamah oleh manipulasi dan
begitupun sebaliknya. Akhirnya akupun bingung, perasaan ini real atau hanya
kagebunshin semata.
Gelagar-gelagar lemah kini
merajalela, menyusuri ruang-ruang hampa dan membunuh segala ketenangan. Perasaan baik, kini menjadi sampah. Membusuk
lalu menjadi tak berarti dan tak berharga, penyebabnya ialah CINTA yang katanya
anugrah dan harus dijalani dengan sabar. Tapi nyatanya yang terjadi ialah
canggung dalam rumah sendiri hingga akhirnya aku semakin lemah. Lemah dalam
perasaan. Alhasil banyak orang pintar tapi bodoh merajalela dimana-mana.
Aku tak habis pikir, terhadap
pribadi-pribadi yang seakan tak pernah kenal perasaan, mereka seakan tak pernah
terjamah, tak pernah mengeluh apalagi gelisah. Mereka tak pernah tertusuk
bongkahan-bongkahan retakan perasaan. Normalkah mereka ? Mereka seperti
tikus-tikus buncit, memakan uang yang bukan haknya lalu meninggalkan bekas dan
berkeliaran dengan tenang tanpa perasaan dosa sama sekali. Ataukah diriku yang
tak normal ? Aku terlalu jauh dari_Nya, sehingga lemah selalu menghantui.
Meraba, menggenggam dan menarik jatuh dalam pangkuannya.
Perasaan ini semakin subur. Padahal
ia tak pernah terpupuk dan tumbuh di atas tanah gersang. Aku seperti tanpa
cahaya dalam kegelapan. Menerka-nerka sekeliling tanpa bisa memastikan. Hanya
sekedar asumsi tanpa bisa membuktikan. Ibarat generasi-generasi yang pandai
berteori yang hanya memacu pada logika dan indra. Sayangnya lupa, teori lama
ada tapi dinafikan dan tak mau mencari apalagi menelusurinya dalam
lembaran-lembaran yang hanya jadi pajangan. Perasaan ini semakin gemuk dan tak
mau bergerak, membuatku lupa dan malas dan hanya memikirkanmu tanpa mau
berteman dengan bacaan kehidupan.
Intinya, perasaan ini membuatku
bingung. Menjadikanku diam kadang canggung. Anehnya lagi ia mendorongku untuk
membencinya. Karena ia merusak segalanya, ialah tangan-tangan jahil,
menciptakan perpecahan dimana-mana. Membelah keutuhan persatuan dan memaksakan kehendak tapi lupa
konsekuensi. Padahal ia dan aku bisa benar bisa salah, olehnya tuntutan yang
seharusnya ialah mengingatkan bukan menyalahkan. Aku benar-benar bingung, harus
kukemanakan perasaan ini ? Tak ada satupun tempat yang kutemui melainkan
bimbang. Bisi-bisik kecil menyuruh untuk mengadu pada_Nya. Mungkin belum saat
ini tapi nanti ketenangan akan menghampirimu.