Kategori

Rabu, 13 September 2017

PERASAANKU

 P E R A S A A N K U
Aku kadang bingung mengartikan perasaan. Ia seperti gejolak yang tak penah henti bergerak. Aku sudah berusaha menguncinya dan tak ingin menunjukannya, namun lagi-lagi ia berseruak dan berteriak. Perasaan ini, begitu sulit untuk memendamnya. Butiran-butiran kecaman dan gelisah terus mencuit, mendemo laksana teriakan semangat para mahasiswa yang menggongong di depan gedung-gedung penguasa. Egokah jika harus berterus terang ? layaknya ego keputusan penguasa yang  hanya berdasar pada diri sendiri tanpa mempertimbangkan suara-suara lusuh dan minor.
Aku telah bertanya kepada Tuhannya tuhan, jawaban yang tumbuh ialah sabar. Aku bisa bersabar, tapi bagaimana dengan perasaan ? tidak ! sungguh tidak ! Nyatanya sampai saat ini yang terjadi ialah desus-desus gelisah. Menyapa palsu, dan mengajaknya bermain dalam arena hoax. Sabar yang kupunya tak akan pernah bisa dimiliki oleh perasaan, karena saat ini, sabar yang bisa dipercaya adalah sesuatu yang sangat sulit ditemui , bahkan bisa dibilang nihil. Artinya kebenaran bisa dijamah oleh manipulasi dan begitupun sebaliknya. Akhirnya akupun bingung, perasaan ini real atau hanya kagebunshin semata.
Gelagar-gelagar lemah kini merajalela, menyusuri ruang-ruang hampa dan membunuh segala ketenangan.  Perasaan baik, kini menjadi sampah. Membusuk lalu menjadi tak berarti dan tak berharga, penyebabnya ialah CINTA yang katanya anugrah dan harus dijalani dengan sabar. Tapi nyatanya yang terjadi ialah canggung dalam rumah sendiri hingga akhirnya aku semakin lemah. Lemah dalam perasaan. Alhasil banyak orang pintar tapi bodoh merajalela dimana-mana.
Aku tak habis pikir, terhadap pribadi-pribadi yang seakan tak pernah kenal perasaan, mereka seakan tak pernah terjamah, tak pernah mengeluh apalagi gelisah. Mereka tak pernah tertusuk bongkahan-bongkahan retakan perasaan. Normalkah mereka ? Mereka seperti tikus-tikus buncit, memakan uang yang bukan haknya lalu meninggalkan bekas dan berkeliaran dengan tenang tanpa perasaan dosa sama sekali. Ataukah diriku yang tak normal ? Aku terlalu jauh dari­_Nya, sehingga lemah selalu menghantui. Meraba, menggenggam dan menarik jatuh dalam pangkuannya.
Perasaan ini semakin subur. Padahal ia tak pernah terpupuk dan tumbuh di atas tanah gersang. Aku seperti tanpa cahaya dalam kegelapan. Menerka-nerka sekeliling tanpa bisa memastikan. Hanya sekedar asumsi tanpa bisa membuktikan. Ibarat generasi-generasi yang pandai berteori yang hanya memacu pada logika dan indra. Sayangnya lupa, teori lama ada tapi dinafikan dan tak mau mencari apalagi menelusurinya dalam lembaran-lembaran yang hanya jadi pajangan. Perasaan ini semakin gemuk dan tak mau bergerak, membuatku lupa dan malas dan hanya memikirkanmu tanpa mau berteman dengan bacaan kehidupan.
Intinya, perasaan ini membuatku bingung. Menjadikanku diam kadang canggung. Anehnya lagi ia mendorongku untuk membencinya. Karena ia merusak segalanya, ialah tangan-tangan jahil, menciptakan perpecahan dimana-mana. Membelah keutuhan persatuan  dan memaksakan kehendak tapi lupa konsekuensi. Padahal ia dan aku bisa benar bisa salah, olehnya tuntutan yang seharusnya ialah mengingatkan bukan menyalahkan. Aku benar-benar bingung, harus kukemanakan perasaan ini ? Tak ada satupun tempat yang kutemui melainkan bimbang. Bisi-bisik kecil menyuruh untuk mengadu pada_Nya. Mungkin belum saat ini tapi nanti ketenangan akan menghampirimu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar